Shadow

Golongan Putih (GOLPUT) sebagai Indikator Demokrasi

Sebuah tulisan yang menggambarkan satu keadaan, dimana Golput adalah indikator demokrasi. Sebagian masyarakat memilih untuk Golput karena berbagai faktor, salah satunya kekecewaan atas kinerja pemerintah.

Oleh : Muhammad Prihatno (Korwil KAHMI Provinsi Bengkulu)

OpiniTerkini.com, – Indonesia saat ini sedang menghadapi suatu momen politik paling bersejarah yaitu pelaksanaan pilkada serentak yang disinyalir merupakan peristiwa politik terbesar satu-satunya di dunia. Kita perlu ingat bahwa pilkada serentak ini diawali oleh sebuah perdebatan politik yang menghubungkan kegiatan politik dengan jumlah biaya yang dikeluarkan, sehingga sempat muncul wacana untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah ke tangan anggota dewan. Selanjutnya terjadi tarik-menarik kepentingan sehingga lahirlah kesepakatan untuk melaksanakan pilkada serentak sebagai sebuah titik-tengah dari perdebatan yang ada.

Sekilas kita dapat meraba ada kemajuan kepentingan demokrasi dalam kesepakatan ini, namun ternyata dalam pelaksanaannya alasan awal untuk memperbaiki demokrasi yang lebih bermartabat tidak terjadi; politik transaksional antar aktor politik tidak hilang bahkan semakin kentara dan sudah sampai pada taraf “tahu sama tahu”, atau dalam bahasa sandi kepolisian semua bisa di “86” kan.

Kondisi seperti ini pun terjadi juga di Provinsi Bengkulu. Memang kalau kita lihat secara prosedur yang telah disepakati, sangat susah untuk menemukan borok demokrasinya akan tetapi secara substansial demokrasi masih jauh panggang dari api. Pernyataan seperti ini akan susah dibuktikan secara positivistik karena itu ia menjadi sangat debatable. Namun bukan berarti kita tidak dapat menemukan indikatornya. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah rasio pemilih golput. Golput, karena itu, tidak boleh dimaknai sebagai sebuah kejahatan demokrasi apalagi sampai diharamkan.

Tingkat rasio golput yang tinggi menjadi petunjuk bahwa rakyat protes terhadap calon pemimpinnya dan terhadap mekanisme-substansial pola rekruitmen calon pemimpin. Bahasa golput menjadi suara protes rakyat yang tidak boleh diabaikan. Inilah salah satu cara rakyat modern melakukan protesnya. Tapi, saat ini pemilih golput masih dianggap sebagai virus perusak demokrasi dan sistem politik.

JANGAN BIARKAN RAKYAT MEMILIH YANG BURUK DI ANTARA YANG TERBURUK!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *